Marcus Thuram mendedikasikan gelar Scudetto ke-21 Inter Milan kepada kapten Nicolo Barella setelah kemenangan telak 2-0 atas Parma, Senin 4 Mei 2026.
Inter Milan secara resmi menjadi juara baru sepak bola Italia setelah meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Parma pada pekan ke-35 Serie A. Di kandang mereka, San Siro, tim asuhan pelatih Cristian Chivu memanfaatkan dominasi mereka dengan dua gol dari Marcus Thuram dan Henrikh Mkhitaryan, sehingga mengamankan gelar Scudetto ke-21 mereka dengan tiga putaran tersisa.
Sorotan utama malam penobatan itu tertuju pada Marcus Thuram. Striker asal Prancis itu tidak hanya mencetak gol pembuka pada menit ke-45+1, tetapi juga mencetak tonggak sejarah yang mengesankan dengan mencetak gol dalam enam pertandingan liga domestik berturut-turut. Setelah pertandingan, dalam kegembiraannya yang meluap-luap, Thuram memberikan penghormatan khusus kepada rekan setimnya, Nicolo Barella – pemain yang saat ini menghadapi spekulasi tentang masa depannya.
Berbicara kepada DAZN, Thuram menegaskan: “Barella adalah pemain Italia terbaik dan salah satu gelandang terkuat di dunia. Saya tidak mengerti mengapa orang meragukannya, tetapi bahkan yang terhebat pun bisa dikritik. Barella adalah kapten kami dan Scudetto malam ini adalah miliknya .”
Lebih lanjut, Thuram juga mengungkapkan kunci dominasi absolut Inter Milan musim ini. Ia percaya bahwa kekompakan tim dan semangat pengorbanan adalah faktor penentu. “Apa rahasia Inter? Ini adalah tim yang suka bersama, bercanda bersama, dan bersedia berkorban untuk satu sama lain. Saya merasakannya sejak hari pertama saya tiba di sini,” ungkap striker asal Prancis itu.
Kemenangan ini membantu Inter mempertahankan keunggulan 12 poin atas tim peringkat kedua, memperkuat posisi dominan mereka di Serie A musim ini. Dengan gelar juara yang sudah diamankan tiga putaran lebih awal, tim asuhan pelatih Chivu kini dapat memfokuskan seluruh upaya mereka pada final Coppa Italia untuk mengincar gelar ganda domestik. Malam tanpa tidur telah dimulai bagi separuh kubu biru Milan karena mereka secara resmi menjadi raja baru sepak bola Italia setelah musim yang dominan.
Dari Luka Menuju Takhta, Inter Milan Ubah Penderitaan Menjadi Dominasi di Serie A
Inter Milan akhirnya resmi kembali ke puncak singgasana. Keberhasilan Nerazzurri mengunci gelar juara Serie A musim 2025/2026 menjadi bukti nyata bagaimana sebuah klub mampu mengubah luka mendalam menjadi motivasi yang tak terbendung.
Hanya dalam satu musim, Inter bertransformasi dari tim yang hancur karena kegagalan treble menjadi penguasa tunggal di tanah Italia.
Kepastian gelar ini didapat setelah Inter membungkam Parma 2-0 di San Siro pada, Minggu 3 Mei 2026. Dengan sisa tiga pertandingan, Inter kini unggul 12 poin dari Napoli di posisi kedua.
Tak hanya itu, pasukan Biru-Hitam berpeluang mengawinkan gelar liga dengan Coppa Italia jika mampu menumbangkan Lazio di final pada 13 Mei mendatang—sebuah prestasi yang terakhir kali diraih saat era emas José Mourinho tahun 2010.
Kondisi hari ini berbanding terbalik dengan akhir musim lalu yang penuh air mata. Kala itu, Inter yang berpeluang meraih tiga trofi justru berakhir dengan tangan hampa. Mereka finis di bawah Napoli di liga, gugur di semifinal Coppa Italia, dan puncaknya, dipermalukan Paris Saint-Germain 0-5 di final Liga Champions paling sepihak dalam sejarah.
Namun, musim ini adalah cerita yang berbeda. Berikut adalah faktor kunci di balik kebangkitan Inter:
Perjudian Manis dengan Cristian Chivu
Kejutan terbesar datang di awal musim. Saat Simone Inzaghi hengkang ke Al-Hilal (Arab Saudi), manajemen Inter menunjuk Cristian Chivu. Banyak pihak meragukan Chivu yang minim pengalaman di level senior.
Namun, Chivu bukan orang asing; ia adalah bagian dari skuad Treble 2010 dan telah tujuh tahun melatih tim muda Inter.
Sentuhan Chivu membawa ide-ide segar. Ia mengubah Inter menjadi mesin penekan yang agresif (high-pressing) dan memulihkan harmoni ruang ganti.
Ia juga berani mengorbitkan bakat muda seperti Pio Esposito untuk memberi energi baru dalam tim.
Stamina Baja dan Nasib Sial Rival
Salah satu kunci dominasi Inter adalah kebugaran pemain. Di bawah metode latihan baru Chivu, para pilar utama Inter jarang masuk ruang perawatan, kecuali Denzel Dumfries dan Hakan Calhanoglu. Meski kapten Lautaro Martinez sempat absen karena cedera betis, ia kembali tepat waktu dalam laga penentu kontra Parma.
Kondisi ini kontras dengan sang rival, Napoli. Tim asuhan Antonio Conte tertatih-tatih karena badai cedera. Kehilangan Romelu Lukaku di awal musim, disusul Kevin De Bruyne, Frank Anguissa, hingga David Neres, membuat kekuatan Napoli pincang dan gagal mengejar konsistensi Inter.
Mentalitas Juara: Bangkit dari “Blip”
Musim Inter tidak selalu mulus. Mereka sempat mengalami fase kritis saat disingkirkan tim gurem Bodø/Glimt di Liga Champions. Performa liga pun sempat merosot dengan hanya meraih dua kemenangan dari delapan laga, termasuk kalah di Derby della Madonnina.
Namun, Inter menunjukkan mentalitas juara. Alih-alih kolaps seperti musim lalu, mereka bangkit dengan kemenangan dramatis 5-3 atas AS Roma. Sejak saat itu, laju Inter tak terhenti. Mereka terus memperlebar jarak di klasemen dan memastikan tiket final Coppa Italia.
Kini, Milan kembali membiru. Dengan bintang ke-21 di dada, Inter Milan telah membuktikan bahwa cara terbaik membalas kegagalan masa lalu adalah dengan mendominasi masa depan.

Leave a Reply