Maulid Nabi Muhammad kembali diperingati umat Islam di Indonesia pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang sekaligus ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional. Momentum tersebut menjadi salah satu peringatan keagamaan yang paling dekat dengan tradisi masyarakat Muslim Indonesia.
Pemerintah Indonesia menetapkan Selasa, 25 Agustus 2026 sebagai hari libur nasional memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketetapan tersebut tercantum dalam keputusan bersama tiga menteri mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
SKB tersebut terdiri atas Keputusan Menteri Agama Nomor 1497 Tahun 2025, Menteri Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2025, serta Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2025. Pemerintah menetapkan total 17 hari libur nasional dan delapan hari cuti bersama sepanjang 2026.
Menariknya, tidak terdapat cuti bersama khusus yang mengiringi Maulid Nabi Muhammad pada kalender resmi 2026, sehingga hanya 25 Agustus yang berstatus libur nasional. Hal tersebut berbeda dengan beberapa hari besar lain yang memperoleh tambahan cuti bersama dari pemerintah.
Namun, Maulid Nabi Muhammad sebenarnya memiliki cerita jauh lebih panjang daripada sekadar peringatan tahunan setiap 12 Rabiul Awal. Di baliknya terdapat perjalanan sejarah berabad-abad, beragam tradisi lokal, perbedaan penanggalan, hingga perdebatan ulama mengenai bentuk perayaannya.
Sejarah Maulid juga tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu tokoh atau satu kerajaan karena sejumlah catatan menawarkan perkembangan berbeda. Tradisi tersebut perlahan tumbuh dari lingkungan istana dan komunitas keagamaan sebelum berkembang menjadi perayaan masyarakat di berbagai kawasan dunia Islam.
Karena itu, memahami Maulid Nabi Muhammad akan lebih menarik apabila tidak berhenti pada pertanyaan kapan tanggal perayaannya. Berikut sepuluh fakta penting mengenai sejarah, perkembangan, tradisi, amalan, dan perbedaan pandangan terhadap peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
10 Fakta Maulid Nabi Muhammad yang Perlu Diketahui
1. Maulid Nabi Muhammad Berkaitan dengan Peringatan Kelahiran Rasulullah
Istilah maulid berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan kelahiran atau waktu kelahiran, sehingga Maulid Nabi Muhammad digunakan untuk menyebut momentum mengenang kelahiran Rasulullah. Dalam perkembangannya, istilah tersebut kemudian identik dengan kegiatan keagamaan untuk mengenang kehidupan dan keteladanan beliau.
Kalangan Sunni secara luas memperingati Maulid Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal, sedangkan sebagian komunitas Syiah menggunakan 17 Rabiul Awal. Perbedaan itu menunjukkan bahwa bahkan tanggal peringatannya memiliki tradisi historis yang tidak sepenuhnya sama di antara komunitas Muslim.
Kegiatan Maulid pun tidak mempunyai satu bentuk baku karena berkembang sesuai budaya masyarakat tempat tradisi tersebut hidup. Selawat, pengajian, pembacaan sejarah Nabi, sedekah, santunan, jamuan bersama, dan kegiatan sosial merupakan beberapa bentuk yang banyak ditemukan.
2. Maulid Nabi Muhammad Tidak Dirayakan sebagai Festival Tahunan pada Masa Rasulullah
Salah satu fakta paling menarik tentang Maulid Nabi Muhammad adalah tradisi perayaan tahunan seperti yang dikenal sekarang tidak muncul pada masa Rasulullah maupun generasi sahabat. Bentuk peringatan tersebut berkembang kemudian seiring perjalanan masyarakat Muslim dan perubahan tradisi keagamaan selama berabad-abad.
Fakta inilah yang kemudian menjadi salah satu titik utama perbedaan pandangan ulama mengenai Maulid Nabi Muhammad hingga sekarang. Kelompok yang menolak menjadikan ketiadaan praktik pada generasi awal sebagai argumen, sedangkan ulama yang membolehkan menilai kegiatan baik dapat diterima selama tidak bertentangan dengan syariat.
Menariknya, munculnya Maulid jauh setelah masa Nabi tidak berarti tradisi tersebut langsung memiliki bentuk seperti perayaan modern saat ini. Catatan sejarah memperlihatkan perkembangannya berlangsung bertahap, mulai dari lingkungan penguasa dan majelis keagamaan hingga akhirnya menjadi perayaan masyarakat di banyak wilayah dunia Islam.
Karena itu, Maulid Nabi Muhammad lebih tepat dipahami sebagai tradisi keagamaan yang berkembang dalam sejarah Islam, bukan ritual dengan satu bentuk yang diwariskan langsung sejak abad pertama Hijriah. Perkembangan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa cara memperingati Maulid sangat beragam antara satu negara, mazhab, dan komunitas dengan lainnya.
3. Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad Memiliki Beberapa Pendapat
Meski 12 Rabiul Awal sangat populer sebagai tanggal Maulid Nabi Muhammad di kalangan Sunni, kepastian tanggal historis kelahiran Rasulullah telah lama menjadi pembahasan para sejarawan. Literatur sirah dan sejarah mencatat sejumlah pendapat berbeda mengenai tanggal persis kelahiran beliau.
Karena itu, 12 Rabiul Awal lebih aman dipahami sebagai tanggal peringatan yang diterima luas dalam tradisi Muslim Sunni, bukan satu-satunya kesimpulan sejarah tanpa perbedaan. Komunitas Syiah sendiri secara tradisional memperingati kelahiran Nabi pada 17 Rabiul Awal.
Perbedaan penanggalan tidak menghilangkan substansi Maulid Nabi Muhammad bagi masyarakat yang memperingatinya, yakni mengenang datangnya Rasulullah serta mempelajari kehidupan beliau. Justru fakta tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berkembang melalui proses sejarah yang panjang dan berlapis.
4. Jejak Awal Maulid Sering Dikaitkan dengan Dinasti Fatimiyah
Salah satu teori penting mengenai sejarah Maulid Nabi Muhammad menghubungkan awal peringatannya dengan Dinasti Fatimiyah yang pernah menguasai Mesir. Pemerintahan Fatimiyah diketahui mempunyai kalender perayaan istana yang mencakup kelahiran Nabi dan sejumlah anggota keluarga Rasulullah.
Sejarawan al-Maqrizi mencatat penguasa Fatimiyah menyelenggarakan beberapa peringatan kelahiran, termasuk Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, dan Husain. Tradisi tersebut menjadi salah satu alasan era Fatimiyah sering muncul ketika membahas asal-usul Maulid.
Kajian akademik Cambridge juga menyebut Maulid kerap dikatakan berakar pada masa Fatimiyah, meski perayaan mereka berlangsung di lingkungan istana dan berbeda dari festival masyarakat kemudian. Karena itulah, perkembangan Maulid sebaiknya dipandang sebagai proses bertahap, bukan satu peristiwa tunggal.
5. Perayaan Besar di Irbil Tahun 1207 Menjadi Tonggak Penting
Catatan sejarah Sunni memberikan perhatian besar kepada perayaan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan Muzaffar al-Din Kokburi di Irbil, kawasan dekat Mosul, pada 1207. Kokburi merupakan penguasa Irbil sekaligus saudara ipar Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.
Menurut kajian Cambridge, perayaan di Irbil telah menampilkan sejumlah unsur yang kemudian menyerupai tradisi Maulid pada masa berikutnya. Dari titik tersebut, perayaan kelahiran Nabi semakin berkembang dan memperoleh tempat penting dalam kehidupan keagamaan berbagai masyarakat Muslim.
Fakta ini sekaligus membuat narasi populer bahwa Salahuddin Al-Ayyubi seorang diri merupakan pencipta Maulid perlu disampaikan dengan lebih hati-hati. Bahan sejarah memang memuat nama Salahuddin, tetapi terdapat pula versi Fatimiyah dan Kokburi sebagai bagian penting perkembangan perayaan.
6. Maulid Kemudian Menyebar ke Banyak Wilayah Dunia
Setelah berkembang selama berabad-abad, Maulid Nabi Muhammad tidak lagi terbatas pada Mesir, Irak, atau wilayah Timur Tengah. Tradisi tersebut kemudian menemukan bentuknya sendiri di Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, Eropa, hingga komunitas diaspora Muslim di berbagai negara.
Bahan yang dihimpun mencatat perayaan Maulid ditemukan bukan hanya di negara mayoritas Muslim, melainkan juga di India, Britania Raya, Rusia, dan Kanada. Hal itu menunjukkan luasnya penyebaran tradisi Maulid mengikuti perpindahan dan perkembangan komunitas Muslim.
Bentuk perayaannya pun tidak selalu sama karena setiap masyarakat menggabungkan unsur keagamaan dengan budaya setempat sepanjang tidak dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka. Ada yang menggelar majelis sederhana, sementara daerah lainnya menyelenggarakan festival, prosesi, jamuan besar, dan kegiatan sosial.
7. Indonesia Memiliki Tradisi Maulid yang Sangat Kaya
Indonesia menjadi salah satu contoh menarik bagaimana Maulid Nabi Muhammad berbaur dengan tradisi masyarakat tanpa kehilangan unsur keagamaannya. Pembacaan selawat, Barzanji, Diba’i, Simtuddurar, Burdah, pengajian, sedekah, santunan, serta jamuan bersama dapat ditemukan di berbagai daerah.
Di Jawa, Rabiul Awal bahkan dikenal dalam penanggalan tradisional sebagai bulan Mulud, istilah yang kemudian melahirkan penyebutan acara Muludan. Salah satu tradisi terkenal adalah Sekaten, yang berkembang menjadi peristiwa budaya sekaligus berkaitan erat dengan peringatan Maulid.
Tradisi lain muncul di Banyuwangi melalui endhog-endhogan yang dikenal di tengah masyarakat Osing dengan telur hias sebagai bagian penting perayaannya. Keragaman tersebut memperlihatkan bagaimana Maulid Nabi Muhammad berkembang menjadi fenomena keagamaan sekaligus kebudayaan di Indonesia.
8. Selawat, Sedekah, dan Mempelajari Sirah Menjadi Amalan yang Banyak Dilakukan
BAZNAS menjelaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad dapat diisi dengan sejumlah kegiatan positif, termasuk memperbanyak selawat, mempelajari kisah kehidupan Rasulullah, bersedekah, membaca Al-Qur’an, serta meningkatkan ibadah. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
Mempelajari sirah memiliki posisi penting karena peringatan kelahiran Nabi akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada seremoni tahunan. Kisah kepemimpinan, kejujuran, kesabaran, keberanian, kepedulian, dan perjuangan Rasulullah dapat menjadi bahan refleksi untuk kehidupan masyarakat modern.
Sedekah juga banyak menjadi bagian dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad melalui santunan anak yatim, pembagian makanan, atau bantuan kepada masyarakat membutuhkan. Dengan pendekatan tersebut, peringatan Maulid tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menghasilkan dampak sosial bagi lingkungan sekitar.
9. Ulama yang Membolehkan Maulid Memberikan Sejumlah Syarat
Perbedaan pandangan mengenai Maulid Nabi Muhammad telah berlangsung selama berabad-abad, bahkan menjadi salah satu pembahasan penting dalam tradisi hukum Islam. Sejumlah ulama membolehkan atau memberikan penilaian positif selama kegiatan yang dilakukan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama.
Jalaluddin al-Suyuti merupakan salah satu ulama yang terkenal membolehkan peringatan Maulid ketika berisi pembacaan Al-Qur’an, kisah Nabi, makanan, dan bentuk ungkapan kegembiraan yang baik. Pandangannya kemudian banyak dikutip dalam pembahasan mengenai legitimasi tradisi tersebut.
Ibn Hajar al-Asqalani juga disebut membolehkan Maulid dengan menekankan aktivitas berupa rasa syukur kepada Allah, membaca Al-Qur’an, memberi makanan, bersedekah, dan melantunkan pujian kepada Nabi. Penekanan utamanya tetap pada kegiatan yang mendorong manusia melakukan kebaikan.
10. Ada Ulama yang Menolak, tetapi Keteladanan Nabi Tetap Menjadi Titik Temu
Di sisi lain, terdapat ulama yang menolak perayaan Maulid Nabi Muhammad karena tidak menemukan praktik tersebut pada masa Nabi, sahabat, dan generasi awal Islam. Taj al-Din al-Fakihani, sebagian ulama Salafi, serta kelompok Deobandi termasuk yang memberikan kritik terhadap perayaan.
Pandangan Ibn Taymiyya lebih bernuansa karena ia mengkritik Maulid sebagai bentuk ibadah baru, tetapi mengakui sebagian orang melakukannya karena kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah. Ia menilai niat baik tersebut dapat memiliki nilai tersendiri meski tetap mengkritik bentuk perayaannya.
Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa umat Islam dapat memiliki sikap berbeda ketika menghadapi Maulid Nabi Muhammad tanpa harus menghilangkan penghormatan kepada Rasulullah. Mereka yang merayakan maupun tidak merayakan sama-sama dapat menempatkan pembelajaran terhadap sirah dan akhlak Nabi sebagai bagian penting kehidupan beragama.
Pada akhirnya, nilai terbesar Maulid Nabi Muhammad terletak pada kemampuan momentum tersebut mendorong umat memahami kembali kehidupan Rasulullah secara lebih mendalam. Kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, kesederhanaan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama merupakan nilai yang dapat diwujudkan sepanjang tahun.
Peringatan pada 25 Agustus 2026 karena itu tidak harus berhenti sebagai tanggal merah dalam kalender nasional atau acara seremonial tahunan. Maulid Nabi Muhammad dapat menjadi kesempatan mempelajari sejarah secara lebih kritis sekaligus menerjemahkan keteladanan Rasulullah ke dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply